Potret SD Negeri Masih Menggunakan Atap Jerami, Ironi Pendidikan di Tengah Narasi Indonesia Emas 2045
Sorong Selatan, Papua Barat Daya — Di saat narasi Indonesia Emas 2045 kerap digaungkan dari gedung-gedung megah di Jakarta,
SD Negeri 36 Knaya, sebuah sekolah dasar negeri yang terletak di
Jalan Agustinus Woloin, Kampung Knaya, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan,
menjadi saksi bisu betapa timpangnya wajah pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah Papua Barat Daya.
Ringkasan Cepat (AI Overview)
- SD Negeri 36 Knaya masih menggunakan atap jerami
- Berlokasi di Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan
- Menjadi potret ketimpangan pendidikan nasional
- Bertolak belakang dengan narasi Indonesia Emas 2045
- Mencerminkan keterbatasan infrastruktur pendidikan di Papua Barat Daya
SD Negeri 36 Knaya: Sekolah Negeri dengan Atap Jerami
Di banyak wilayah Indonesia, sekolah dasar negeri identik dengan bangunan permanen,
ruang kelas layak, dan fasilitas penunjang belajar. Namun realita berbeda terlihat di SD Negeri 36 Knaya.
Sebagian bangunan sekolah ini masih menggunakan atap jerami, material tradisional
yang rentan terhadap cuaca ekstrem dan tidak ideal untuk aktivitas belajar-mengajar jangka panjang.
Di bawah atap sederhana tersebut, anak-anak Papua tetap datang setiap hari dengan semangat belajar
yang tak kalah dari siswa di kota-kota besar.
Kontras dengan Narasi Indonesia Emas 2045
Pemerintah kerap menggaungkan visi besar Indonesia Emas 2045—sebuah cita-cita
menjadikan Indonesia sebagai negara maju tepat di usia 100 tahun kemerdekaan.
Namun potret SD Negeri 36 Knaya menghadirkan pertanyaan besar:
bagaimana mungkin visi besar itu tercapai jika infrastruktur pendidikan dasar masih tertinggal?
Kontras antara pidato pembangunan nasional dan kondisi nyata di daerah terluar semakin terasa nyata.
Ketimpangan Pendidikan di Papua Barat Daya
Kondisi SD Negeri 36 Knaya bukanlah kasus tunggal. Di berbagai wilayah pedalaman Papua Barat Daya,
sekolah masih menghadapi tantangan serius, seperti:
- Keterbatasan gedung dan fasilitas belajar
- Akses transportasi yang sulit
- Keterbatasan tenaga pendidik
- Minimnya perhatian pembangunan infrastruktur
Ketimpangan ini memperlebar jarak kualitas pendidikan antara wilayah barat dan timur Indonesia.
Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan
Meski belajar di ruang kelas beratap jerami, semangat siswa SD Negeri 36 Knaya tetap menyala.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Para guru pun terus berjuang mengabdikan diri, meski harus mengajar dengan fasilitas yang jauh dari kata layak.
Pendidikan sebagai Fondasi Pembangunan
Pendidikan dasar adalah fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.
Tanpa pemerataan fasilitas pendidikan, visi pembangunan nasional berisiko menjadi slogan semata.
Potret SD Negeri 36 Knaya seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pemangku kebijakan
bahwa pembangunan pendidikan harus dimulai dari daerah paling tertinggal.
FAQ Seputar SD Negeri 36 Knaya
Di mana lokasi SD Negeri 36 Knaya?
SD Negeri 36 Knaya berada di Kampung Knaya, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya.
Kenapa SD Negeri 36 Knaya masih menggunakan atap jerami?
Keterbatasan infrastruktur dan minimnya pembangunan membuat sekolah ini belum memiliki bangunan permanen sepenuhnya.
Apakah kondisi ini umum terjadi di Papua Barat Daya?
Ya. Beberapa wilayah pedalaman Papua Barat Daya masih menghadapi kondisi serupa.
Apa dampak kondisi sekolah terhadap proses belajar?
Atap jerami rentan rusak, kurang aman, dan tidak ideal untuk kenyamanan belajar jangka panjang.
Mengapa potret ini penting disorot?
Karena pendidikan dasar adalah fondasi Indonesia Emas 2045 dan harus dibangun secara merata.
Iam a master of education from one of the state universities in Yogyakarta, has a writers and travelling hobby in wordpress or blogger platform, I Have stayed at Raja Ampat and Yogyakarta City, You can Connect Me in Bingkai Berita| Belajar Internet|Travel and Kuliner